Strategi Pengembangan Kewirausahaan Sebagai Syarat Mutlak Menduduki 5 Besar Perekonomian Dunia Pada
Berikut adalah essay saya sesuai bidang konsentrasi saya: Entrepreneurship. Essay in iterpilih menjadi salah satu essay yang akan dimasukkan dalam buku "100 Mimpi untuk Indonesia" terbitan Bentang Pustaka. Have a nice reading...
PBB memproyeksikan dalam 30 tahun kedepan, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yang mengakibatkan terjadinya trend pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat (un.org, 2015). Indonesia akan menempati posisi ke-4 negara ekonomi terkuat di dunia, hal ini dikarenakan oleh pertumbuhan usia produktif yang berkontribusi dalam penyediaan SDM (PwC, 2015). Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, bagaimana Indonesia mengoptimalkan keunggulan tersebut sehingga bisa menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat di tahun 2045?
Jawabannya sangat sederhana: maksimalkan aktifitas kewirausahaan di Indonesia. Pada tahun 2017, Indonesia baru memiliki 3.1% jumlah wirausaha dari 253 juta penduduk (depkop.go.id, 2017). Rasio ini terhitung rendah dibandingkan Malaysia yg mencapai 5% atau Jepang yang memiliki 10% jumlah wirausaha. Saat ini, pemerintah melalui Kementrian Koperasi dan UMKM serta dinas-dinas terkait terus berupaya meningkatkan rasio tersebut.
Bappenas menuturkan bahwa target Indonesia di tahun 2045 adalah zero povertydan penerimaan PDB terbesar ke-4 di dunia (Yayat, 2017). Target diatas dapat terwujud oleh aktifitas kewirausahaan yang diyakini memiliki manfaat yang sangat penting baik untuk masyarakat dan pemerintah.
Bagi masyarakat, kewirausahaan dapat memberi penghidupan, meningkatkan standar hidup dan kesejahteraan pelakunya. Sedangkan dari pihak pemerintah, kewirausahaan dapat meningkatkan PDB, mengurangi pengangguran dan membuka lapangan kerja baik baik untuk masyarakat berpendidikan tinggi maupun rendah (Tambunan, 2008).
Oleh karena itu, essay ini akan menjabarkan tiga strategi utama yang dapat diterapkan untuk meningkatkan giat kewirausahaan di Indonesia. Diharapkan dengan adanya tulisan ini, pihak-pihak terkait dapat mulai meninjau ulang dan menggali lebih dalam mengenai kebijakan dan program-program pendekatan yang sesuai.
Meningkatnya minat atas dunia kewirausahaan di Indonesia telah dirasakan dalam beberapa tahun belakangan dengan semakin menjamurnya jenis usaha seperti kafe, warung, restoran, bisnis retail yang konvensional hingga ke bisnis online yang memaksimalkan fungsi teknologi.
Namun, dalam mendirikan dan mengembangkan usaha, para wirausaha tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan campur tangan pemerintah dalam mendampingi usaha-usaha tersebut untuk terus maju. Pemerintah dianggap sebagai tulang punggung dalam upaya pengembangan kewirausahaan. Oleh karena itu, peran pemerintah sangatlah krusial. Selama ini, pemerintah, melalui Kementrian Koperasi dan UMKM telah meluncurkan berbagai bentuk dukungan seperti: pemberian KUR, mengadakan pelatihan dan seminar kewirausahaaan, mengikutsertakan UMKM dalam pameran baik nasional maupun internasional, mengembangkan ekosistem kewirausahaan dan lainnya (Bappenas, 2016). Meskipun demikian, essai ini akan memberikan argumentasi mengenai strategi utama yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah dalam upaya mendukung praktek kewirausahaan di Indonesia.
Strategi pertama dan sangat krusial adalah sudut pandang. Penulis beragumentasi bahwa kini saatnya pemerintah mengubah sudut pandangnya dalam melihat dunia kewirausahaan dan pelaku kewirausahaan. Selama ini kewirausahaan dianggap sebagai jenis usaha yang rapuh sehingga pendekatan yang dilakukan lebih ke pendekatan sosial. Dengan pendekatan sosial, wirauhasa tidak diharapkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dan tidak ditargetkan untuk memperluas pasarnya hingga ke pasar internasional. Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Bank Indonesia di tahun 2015, yang menyimpulkan bahwa pendekatan sosial yang selama ini diterapkan tidak akan menghasilkan UMKM yang kompetitif.
Pendekatan yang seharusnya dilakukan adalah pendekatan bisnis dimana wirausaha didukung untuk berusaha seluas-luasnya, wirausaha diberikan ruang untuk berinovasi dan mengemukakan ideout of the boxdan mendukung mereka dalam menjalankan ide tersebut. Hingga, membuka pintu bagi para wirausaha untuk melebarkan sayap dengan terlibat dalam pasar ekspor.
Strategi kedua yang penting dalam pengembangan kewirausahaan adalah pengimplementasian business growth stagedalam diversifikasi jenis kebijakan dan program yang diluncurkan pemerintah. Storey dan Green (2010) dalam bukunya “Entrepreneurship and Small Business” menjabarkan business stage model dalam diagram yang dapat dilihat di gambar dibawah ini:

Gambar 1. Tahap Pertumbuhan Usaha (Storey & Greene, 2010)
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa terdapat pendekatan yang berbeda di setiap tahap pertumbuhan usaha. Grafik di atas menyimpulkan bahwa di tiap tahap pertumbuhan, UMKM membutuhkan bantuan yang berbeda karena menghadapi tantangan yang berbeda. Contohnya: di tahap 4, dimana keuntungan sedang meningkat pesat, pemerintah diharapkan mendorong dan membuka kesempatan UMKM untuk melebarkan sayapnya untuk mempersiapkan diri menghadapi tahap 6. Bila di tahap 4, UMKM tidak memiliki strategi untuk mengembangkan usaha, maka UMKM akan kehilangan keuntungan dan peluang saat pasar mengalami penurunan. Bentuk bantuan yang sangat berarti dalam tahap ini adalah: suntikan dana baru untuk difersifikasi produk hingga kesempatan untuk berpartisipasi dalam pasar ekspor. Kebijakan dan program yang diluncurkan sebaiknya menyesuaikan dengan tahap pertumbuhan usaha sehingga dampak yang diberikan lebih terasa dan bermanfaat bagi pertumbuhan usaha kewirausahaan.
Strategi ketiga adalah tidak hanya fokus pada penambahan jumlah usaha baru tapi juga memberikan dukungan yang berkesinambunganterhadap usaha yang sudah berdiri. Menambah jumlah wirausaha sudah jelas merupakan keharusan namun yang lebih penting dari itu semua adalah usaha untuk mencegah bangkrutnya sebuah bisnis. Di poin ini, penulis berargumentasi bahwa usaha yang telah mencapai stage pertumbuhan yang stabil tidak berarti harus dilepaskan dari segala bentuk kebijakan dan program bantuan. Usaha-usaha tersebut masih memerlukan bantuan yang berbeda dengan usaha yang baru saja dirintis.
Kewirausahaan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menunjang hidup masyarakat dan meningkatkan perekonomian nasional. Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan dengan mendukung perkembangan kewirausahaan. Namun, usaha pengembangan ini harus datang dari dua belah pihak, yaitu pemerintah dan pelaku usaha itu sendiri. Wirausaha tidak boleh hanya mengharapkan bantuan dan bergantung sepenuhnya kepada pemerintah. Wirausaha juga harus terus berinovasi, beradaptasi terhadap perubahan pasar dan prilaku konsumen dan terutama berusaha terus mengikuti perkembangan teknologi dan menggunakan teknologi semaksimal mungkin dalam menjalankan usaha.
Di lain pihak, pemerintah juga harus mengeluarkan kebijakan dan program yang tepat guna, tidak berfokus pada jumlah program dan kebijakan yang dikeluarkan tapi fokus pada ketepatan dan manfaat kebijakan dan program tersebut terhadap para wirausaha. Seperti halnya yang ditekankan oleh Presiden RI Bpk. Joko Widodo dalam pidatonya di Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Tahun 2017, bahwa setiap kementrian jangan berfokus pada banyaknya jumlah program yang dilaksanakan tapi fokus pada manfaat dan hasil yang dapat didatangkan oleh program-program tersebut (Kompas, 2017).
Diharapkan, dengan penerapan tiga strategi utama diatas, akan tercipta ekosistim usaha yang jauh lebih kuat, rasio kewirausahaan yang semakin meningkat dan mengantarkan Indonesia dalam pencapaian target di Indonesia Emas 2045.
Jumlah kata: 979
Kepustakaan:
Bappenas. (2016). “Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia”.https://www.bappenas.go.id/files/lampid/Lampiran-Pidato-Kenegaraan-Presiden-Republik-Indonesia-(LAMPID)-2016.pdf16 Agustus. (14 September 2017).
Depkop. (2017). “Rasio Wirausaha Naik Menjadi 3,1%”. http://www.depkop.go.id/content/read/ratio-wirausaha-indonesia-naik-jadi-31-persen/ 11 maret. (14 September 2017).
Ihsanul. (2017). “Jokowi: Ini Kegiatan Apa Sih? Hasilnya Tidak Jelas ”. http://nasional.kompas.com/read/2017/09/14/11464451/jokowi-ini-kegiatan-apa-sih-hasilnya-tidak-jelas14 September. (16 September 2017)
PWC. (2015). “The World in 2050 Will The Shift In Global Economic Power Continue?”. https://www.pwc.com/gx/en/issues/the-economy/assets/world-in-2050-february-2015.pdf Ferbuary. (17 September 2017).
Cipasang, Yayat. (2017). “Bappenas Sebut Pendidikan dan Wirausaha Kunci Pertumbuhan. http://rilis.id/bappenas-sebut-pendidikan-dan-wirausaha-kunci-pertumbuhan.html28 Agustus. (17 September 2017)”
United Nation. (2015). “World Population Projected to Reach 9,7 Billion by2050 With Most Growth in Developing Regions, Especially Africa – Says UN”. http://www.un.org/en/development/desa/population/events/pdf/other/10/World_Population_Projections_Press_Release.pdf29 July. (15 September 2017)
Storey & Green. 2010. Small Business and Entrepreneurship. UK: Pearson Education Limited.
Tambunan, T. 2008. SME Development, Economic Growth, and Government Intervention in a Developing Country: The Indonesian Story. International Entrepreneurship Journal, Vol. 6, 147-167.


Comments